"Senja yang Menggurat"

 

            Dan pelita itu masih ada menerangi jalan dalam gelap. Senja mulai kalut terbawa malam sunyi yang menyerawak kalbu. Kota metropilitan ini bernama jakarta, tempat jauh dari kampung halamanku. Disini saya menaut rindu ditemeni semilir angin malam ditengah kota. Di tempat ini lah saya memulai perjuangan.

            Nama saya Bahrudin Ahmad lahir di tuban 1999. Saya lahir dikeluarga yang sederhana, bapak saya bekerja sebagai kuli pangul batu dan emak ikut membantu bapak bekerja kuli panggul. Dan tak mau menyusahkan emak dan bapak dikampung saya nekat ingin merantau jauh dari tempat kelahiran karena keinginan saya untuk mencari segudang penggalaman untuk bekal masa depan. Dan tak lupa keinginanan terbesar saya adalah membahagiakan dan membanggakan kedua orang tua saya. Ingin sekali saya melihat senyum haru dan bangga dari wajah emak dan bapak saat saya sukses nanti.

            Setelah saya lulus dijenjeng SMA saya berniat akan merantau secepatnya. Emak dan bapak mungkin sangat khawatir akan keadaan saya jika merantau nanti. Dengan berbekal ilmu yang saya pelajari selama di tuban serta berbekal restu dari emak dan bapak saya yakin bisa membanggakan bapak dan emak saya. Tekad saya sudah bulat untuk pergi meninggalkan tuban demi mencari masa depan yang indah nantinya. Langkah kakiku tersenggal menatap wajah emak bapak yang penuh sedih dan tangisan emak yang tak sanggup melihat anak laki-lakinya pergi jauh darinya. Namun bagimana lagi saya sudah mempunyai niatan yang tak bisa dirubah oleh siapapun.

            Malam pun diam-diam melangkah, menjaga tenang nyala terlintas saat kupergi. Hari bermula menegaskan kesibukan yang berawal sebelum seruling dibunyikan. Mozaik gedung tinggi dan bisingnya suara  membawa suasana ramai riuhnya ibu kota. Saya  sudah berada di jakarta tempat tujuan saya untuk memulai lembar baru, mencaari penggalaman baru yang sebelumnya belum saya miliki selama didesa .

Hari pertama dijakarta saya ingin mencari lowongan pekerjaan, setelah saya berkeliling kota jakaarta saya melihat adanyaa sebuah lowongan  mencari pegawaaai teknik informatika disalah satu perusahaan yang bernama Next In. Dan  yang dicari adalah lulusan SMA , Saya mencoba melamar pekerjaan disana, barang kali saya bisa bergabung diperusahaan tersebut.

            “Permisi pak!!.. saya mau melamar pekerjaan”. “oh masnya mau ngelamar kerja..iya silahkan masuk mas semoga diterima kerja ya mas .” ucap satpam dikantor tersebut. “iya pak makasih, kalau begitu saya masuk dulu” jawab saya. Saya langsung menuju ke tempat yang ditunjukan oleh satpam tadi. Setelah sampai saya pada ruanagan yang telah disediakan untuk interview kerja. saya menunggu giliran untuk diinterview. Dan tak lama kemudian nama saya di panggil. Saya mungkin agak grogi saat diinterview maklum saja saya baru pertama kali melamar pekerjaan. Hasil diterima kerja atau tidaknya bisa  dilihat dari  pengalaman serta kejujuran para calon pegawai. Semoga saja saya diterima diperusahaan tersebut.


           
Mentari hangat mulai menyelimuti atmosfer bumi, itu pertandaku untuk bergegas untuk kerja. Sejengkal demi sejengkal saya langkahkan kaki untuk beraktifitas dipagi hari ini. Hari pertamaku bekerja dijakarta ,setelah diumumkan hasil interview minggu kemerin alhamdulillah saya bisa bekerja diperusahaan tersebut dibagian Office Boy. Tak pernah terfikirkan untuk bisa memulai hidup dan mencari pekerjaan di ibu kota ini. Tak hanya mencari pengalaman saja sayapun juga membutukan uang untuk mememuhi hidup saya selama dijakarta dan mengirim uang pada emak bapak dikampung.

            Disepadanan kata malam kutemukan diriku membeku diantara gelapnya malam. Saat senja beganti malam, lenteraa-lentera ibu kota mulai dinyalakan waktu petang. Dipenghujung hari yang hampir hilang ini saya mersakan lelah dan penat akan keseharian yang saya lakukan dijakarta Ternyata tak ada yang sia-sia kalau kita selau berusaha dan mencoba, perjuangan tak akan pernah menghianati hasil. Hari ini adalah akhir bulan yang artinya gaji pertamaku sudah cair. Diperusahaan Next In  gaji pokok yang saya peroleh hampir empat juta perbulan dan alhamdulillah saya mendapat bonus hadir sebesar lima ratus ribu . Tak lupa saya mengirim sebagian gaji saya pada emak dan bapak dikampung, agar mereka merasakan hasil kerja keras saya selama dijakarta.  

            Mungkin tak pernah mudah merasakan kerasnya ibu kota, yang lemah ditindas dan yang kuat dianggap malaikat. Itu hanya sebuah kiasan untuk para pejabat-pejabat tinggi yang ada di ibu kota ini.

Terkadang hakikat rindu selalu saja menyeruak dalam kalbu, rindu pada emak dan bapak dikampung seakan tak terbendung. Maklum saja saya tak pernah jauh dari mereka berdua. tak terasa saya di jakarta hampir satu tahun lamanya, namun saya tak sempat meneggok kabar emak dan bapak dikampung sana.

            Tak begitu mudah saya memulai karir di ibu kota ini, pahit manisnya kehidupan ibu kota sudah saya rasakan selama saya berada di Jakarta. Saya tidak hanya memulai karir kerja disini, namun saya juga memulai pendidikan strata 1 di Universitas Trisakti Jakarta, jurusan yang saya ambil adalah sasta indonesia. Bagi saya sasta adalah kehidupan penuh karya, imajinasi, dan ekspresi jiwa yang tertuang dalam sajak-sajak indah. Dijakarta saya tak hanya sendiri namun saya ditemeni surya teman kerja saya yang ikut  ngekos bersama . Kami berdua sama-sama merantau jauh dari kampung halaman. Dan selebihnya kita saling memahami perasaan seorang perantau muda yang jauh dari orang tua.

            Pada saatnya saya merasakan pahitnya hidup di ibu kota. Otak yang sibuk mengurai kerumitan kerumitan hidup, Otak yang sibuk melemparkan jala, otak yang sibuk mengerus butiran debu. Di perusahaan tempat saya bekerja ada pengurangan karyawan dengan jumblah yang sangat banyak,membuat para karyawan lama maupun baru ikut diberhentikan sepihak oleh perusahaan. Dari situlah semua anggan-anggan saya seakan hancur. Mata pencarian yang saya kerjakan selama ini seakan tidak ada harapan lagi.

            Namun saya tak patah semangat begitu saja. Saya  akan berusaha mencari pekerjaan lagi. Saya  tak kan pernah lupa kan tujuanku dijakarta ini, saya  ingin membangakan orang tua saya dikampung sana.

Akhirnya saya melamar perkerjaan disebuah kafe bersyukur sekali saya diterima kerja disana, Alhmdulillahnya saya diterima kerja dibagian waiters. Mungkin gaji yang saya dapat dicafe tak sebesar gaji saya selama di perusahaan Next In namun saya tetap bersyukur masih bisa bekerja untuk membiayai hidup saya selama dijakarta dan untuk kuliah.

            Sejengkal demi sejengkal jarak senja telah dipatakan. Sore ini saya akan menimba ilmu di Universitas tempat saya kuliah. Rutinitas saya biasanya seusai bekerja saya langsung ganti pakaian dan berangkat ke kampus. Walaupun terkadang saya sering mengeluh dalam hati namun ambisi saya selalu menguatkan untuk tidak mengecewakan bapak dan emak yang selalu mendoakan saya dari kejauhan.

Malam ini terasa sunyi saya hanya ditemani rembulan ,taburan bintang dan merasakan rindu yang menyerawak dalam kalbu. Mungkin emak dan bapak dikampung juga merindukan saya.tilulit...tilulit...” suara dering ponsel saya. “Assalamualaikum udin?” sapa emak terdengar diponselku. “waalaikum sallam mak! Bagaimana kabar emak dan bapak disana? Tanya ku yang sedang rindu. “baik-baik saja nak, emak dan bapak merindukanmu. sekali-kali lah kau datang untuk menenggok kami di kampung”. ucap emak ditelfon. Mendengar kabar itu saya selalu memikirkan keadaan bapak dan emak namun tak bisa bertemu dengan mereka karena urusan pekerjaan dan pendidikan.

            Ayam berkokok matahari mulai menyinari ibu kota dan ditemani secangkir kopi ku sesapi rasanya pagi .Entah mengapa hari ini hati saya tidak karuan rasanya, sampai pada akhirnya saya dihubungi saudara saya yang berada di tuban mengabari bahwasannya bapak sedang sakit keras, akan tetapi yang saya sesaali adalah saya tak bisa pulang kampung untuk jenguk bapak disana, dikarenakan saya tak punya ongkos untuk baalik kampung. Hati saya tak karuan rasanya ,saya Cuma bisa ratapi nasib saya dibalik riuhnya ibu kota.

            Merasakan hati yang tak karuan, saya rasanya tak tahan ingin melihat keadaan bapak  dikampung. Jalan yang bisa saya ambil adalah dengan meminjam uang pada teman kos saya syukurlah dia mau meminjamkan uangnya.Tak menunggu lama saya langsung menuju ke stasiun untuk membeli tiket keberangkatan saya ke Tuban.

            Cipratan air diwajah merindangkan kenangan berada ditepinya menjelajah dibalik cakrawala. Akhirnya perjalanan saya jakarta menuju tuban selesai juga. Tak terasa pukul empaat sore. saya belum melaksanakan sholat ashhar untung saja  didekat jalan sebrang sana ada masjid saya memutuskan untuk sholat ashar terlebih dahulu terlebih waktu ashar segera berakhir. Saya mengharapkan kabar baik dari bapak dan emak semoga kedaan bapak saya sudah mulai membaik. Tak terasa saya berada dimasjid terlalu lama,akhirnya saya  bergegas menuju halaman rumah saya di Dusun Grebekan kecamatan Plumpang.

            Langit yang mulai gulita, damar yang mulai dinyalakan sekitar desa. Senja yang warnanya mulai luntur menari-nari dibalik bukit makin melemah hampir tenggelam. Saya sudah sampai tepat didepan pekarangan rumah saya.terlihat ada bendera kuning berkibar didepan rumah. Namun saya tak mengerti saya bertanya – tanya hati mengapa banyak orang yang datang dalam balutan jubah dan peci datang memasuki rumah saya. Dan suara itu? Suara isak tangis yang terdengar miris diteliga saya. Saya  masih saja bertanya- tanya dengan apa yang saya lihat. Saat itu saya lari sekencang mungkin untuk memastikan semua baik-baik saja, apa yang saya rasakan ternyata firasat buruk . Bapak saya meninggal saat saya akan datang menjenguknya. Tak sempat saya bisa membahagiakan beliau namun waktu berlalu tanpa memberitahu, takdir berkehendak lain. Disana terpecah tangis yang tak terduga teriris hati dan meringis kesepian, penyesalan yang tak henti-hentinya  menyeruak dalam diri saya.

            Saya peluk erat emak saya, yang tangisnya pecah dan tak henti-henti. Saya dan emak  sangat merasakan kehilangan bapak. Seorang bapak, tulang punggung sosok teladaan bagi keluaarga sekarang sudah tiada. Untuk yang kesekian kali saya tak mau kehilangan emak seperti saya kehilangan seorang bapak. saya  akan selalu berada di sisi emak dan membahagiakan selama hidupnya. Sekarang bapak Hanya sebuah nama dan kenangan yang selalu ada dihati dan tak kan pernah dilupaa. Sekarang aku sadar  perihal tentang rindu itu seperti sajak rumpang yang tak kunjung rampung layaknya kerinduan emak daan bapak  pada saya dulu Tak pernah saya hiraukan .Saya hanya sibuk dengan sebuah ambisi sampai lupa untuk siapa saya berada di Jakarta. Penyesalan terbesarku adalah masih belum bisa membuat bapak serta emak Bahagia. Hilang senja hari ini, tak ada senyum bapak diesok hari. Akan ada hal yang kurindukan disetiap senja datang. Tentang senja yang menggurat perih.

 

Tamat. 😊

           

 

 

 

 

Komentar